Sahabat Indonesia...
Anda pernah mengunjungi acara adat atau pernikahan kerabat yang bersuku Bugis-Makassar. Disana tentu kita akan melihat suatu baruga (gerbang) berupa anyaman dari bambu. Anyaman bambu ini menjadi hal yang wajib ada pada setiap acara pernikahan karena memiliki filofofi tersendiri menurut kepercayaan orang Bugis-Makassar.
Balasuji/lawasoji/walasoji,
yah itulah beberapa sebutan atau nama dari anyaman bambu khas dari jazirah
Sulawesi bagian Selatan dan Barat ini. Anyaman bambu yang teridiri dari dua
atau tiga bilah bambu yang dianyam secara sejajar dan dibuat dengan berbagai
bentuk sesuai peruntukannya, seperti misalnya sebagai wadah hantaran dari calon
mempelai pria kepada calon mempelai wanita yang diisi dengan berbagai macam
buah, atau sebagai pembatas pelaminan antara mempelai dengan undangan, dan atau
sebagai ornamen pada pintu gerbang dalam ritual adat perkawinan.
yah itulah beberapa sebutan atau nama dari anyaman bambu khas dari jazirah
Sulawesi bagian Selatan dan Barat ini. Anyaman bambu yang teridiri dari dua
atau tiga bilah bambu yang dianyam secara sejajar dan dibuat dengan berbagai
bentuk sesuai peruntukannya, seperti misalnya sebagai wadah hantaran dari calon
mempelai pria kepada calon mempelai wanita yang diisi dengan berbagai macam
buah, atau sebagai pembatas pelaminan antara mempelai dengan undangan, dan atau
sebagai ornamen pada pintu gerbang dalam ritual adat perkawinan.
Menurut namanya, lawa soji dalam bahasa bugis yaitu Lawa yang berarti pembatas dan suji yang berasal
dari bahasa bugis kuno dan disebutkan di dalam Lontara I Lagaligo yang berarti
agung atau suci. Sehingga secara umum bisa dikatakan bahwa lawa suji adalah sebuah
pagar yang dibuat untuk memagari sesuatu yang sifatnya bersih, suci atau agung.
Dalam membuat lawa suji/bala suji, bilah bilah bambu yang telah dipotong
kemudian dianyam secara diagonal dengan jarak tertentu hingga akan terbentuk
belah ketupat sehingga dikatakan bahwa bentuk lawa suji ini tidak bisa
dilepaskan dari kepercayaan mikrocosmos masyarakat sulawesi selatan dan barat
tentang sulapa eppa/sulapa appe yang memuat ajaran sosiokultural dan spritual.
dari bahasa bugis kuno dan disebutkan di dalam Lontara I Lagaligo yang berarti
agung atau suci. Sehingga secara umum bisa dikatakan bahwa lawa suji adalah sebuah
pagar yang dibuat untuk memagari sesuatu yang sifatnya bersih, suci atau agung.
Dalam membuat lawa suji/bala suji, bilah bilah bambu yang telah dipotong
kemudian dianyam secara diagonal dengan jarak tertentu hingga akan terbentuk
belah ketupat sehingga dikatakan bahwa bentuk lawa suji ini tidak bisa
dilepaskan dari kepercayaan mikrocosmos masyarakat sulawesi selatan dan barat
tentang sulapa eppa/sulapa appe yang memuat ajaran sosiokultural dan spritual.
Ada beberapa philosofi tersendiri hingga kenapa bahan
pembuatan balasuji ini jatuh pada bambu antara lain:
pembuatan balasuji ini jatuh pada bambu antara lain:
- Bambu
adalah tumbuhan serba guna yang banyak digunakan oleh masyarakat umum, ini bermakna
bahwa semoga orang-orang yang memahami balasuji bisa menjadi orang yang berguna
bagi masyarakat umum dilingkungannya. - Bambu
adalah tumbuhan berbatang bulat, yang mana kulit bagian luar batang bambu lebih
keras daripada bagian dalamnya. Ini mengandung makna bahwa masing-masing dari
keempat sisi pada balasuji harus saling menjaga dan bersatu dalam mufakat pada
setiap kegiatan yang akan dilakukan. - Batang
bambu memiliki sifat liat dan lentur, ini mengandung makna agar kita seharusnya
menjadi orang yang kuat, ulet, dan gigih namun tetap dinamis dalam menghadapi
dinamika hidup. - Tunas
bambu muda dapat menjadi bahan makanan, ini bermakna bahwa manusia sulawesi
pada masa kecilnya bisa membawa kebahagiaan dan keceriaan
bagi keluarga dan lingkungannya namun sekaligus dapat menjadi pelindung setelah
ia beranjak dewasa.
bagi keluarga dan lingkungannya namun sekaligus dapat menjadi pelindung setelah
ia beranjak dewasa.
Jika saja philosofi balasuji ini mampu kita terapkan maka
mungkin saja moral, etika dan sopan santun manusia jaman sekarang tidak perlu
dikhwatirkan menjadi manusia biadab yang miskin moral.
mungkin saja moral, etika dan sopan santun manusia jaman sekarang tidak perlu
dikhwatirkan menjadi manusia biadab yang miskin moral.